Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

06 Oktober 2009

Mutiara Hati Rasulullah dari Kaum Yahudi

Judul Buku        : Misteri Sofia: Istri Nabi dari Putri Yahudi
Penulis              : Abba Zhahir Bi Amrillah
Penerbit            : Salamadani
Edisi                 : Cetakan I, September 2008/ Ramadhan 1429 H
Tebal                : 196 Halaman


Menarik! Itulah kesan pertama saya selaku pembaca ketika melihat judul buku ini. Melihat dari diksi yang dipilih untuk judul yaitu Misteri Sofia: Istri Nabi dari Putri Yahudi, ada dua hal yang terpikirkan oleh pembaca. Pertama, buku ini merupakan sebuah otobiografi tentang Sofia, kedua mengingatkan pada judul-judul novel bergenre misteri, yang membuat pembaca penasaran dengan alur cerita novel, untuk mengetahui ending  ceritanya. Seakan-akan bukan seperti kisah shirah nabi pada umumnya, yang terkesan formal dengan dalil naqli yang banyak. Buku ini menceritakan salah satu ummul mukminin yaitu Sofia.
            Siapakah Sofia? Dia adalah Shafiyyah binti Huyaiy bin Akhtab ra, salah seorang ummul mukminin, istri Rasullullah. Kitab shirah lebih mengenal Sofia dengan nama Shafiyyah. Pemilihan nama “Sofia” daripada “Shafiyyah” membuat kesan religi buku ini agak tersamar. Sehingga pembaca yang memiliki keyakinan selain islam bisa tertarik untuk mengetahui isi buku ini.
Penyebutan nama Sofia sendiri adalah nama yang biasa dipakai  putri Huyaiy bin Akhtab diantara kaumnya.. Sosok Sofia menjadi menarik, karena beliau adalah putri seorang pemimpin Yahudi yang sangat memusuhi islam. Namun selain itu, beliau juga memiliki garis keturunan dengan  Nabi  Harun as saudara Nabi Musa as. 
Selain memiliki garis keturunan nabi, Ummul mukminin Sofia adalah seorang wanita dengan kepribadian yang istimewa. Beliau memiliki kecantikan “luar-dalam” yang indah. Sehingga membuat Rasulullah sangat menyayanginya dan memberikan tempat khusus di hati beliau. Begitu juga sebaliknya, Sofia  sangat mencintai dan menghormati Rasulullah. Meskipun dalam tubuh Sofia mengalir darah Yahudi yang memusuhi Rasulullah, kesetiaannya terhadap Rasulullah dan islam tidak perlu diragukan lagi.
Keteladanan Sofia sebagai seorang wanita dan istri seorang pemimpin besar layak untuk ditiru. Beliau sangat pandai menyenangkan hati Rasulullah dengan akhlak mulianya. Hal ini sering membuat cemburu istri-istri Rasul yang lain, termasuk ummul mukminin  Aisyah. Sehingga seringkali timbul tindakan dari ummul mukminin lain yang membuat sakit hati Sofia. Namun kelembutan, sikap pemaaf dan keikhlasan beliau membuat semua itu menjadi baik-baik saja. Bahkan meskipun kecemburuan sering terjadi, tapi para istri Rasul termasuk Aisyah mengakui bahwa Sofia adalah wanita yang istimewa. Itulah sekilas kisah tentang Sofia
Selain menceritakan tentang Sofia, buku ini juga mengulas tentang kisah-kisah Rasulullah yang berhubungan dengan kaum Yahudi. Hal ini sangat  relevan, karena Sofia sebagai sentral cerita memiliki latar belakang Yahudi yang kuat.
Melihat kembali kisah hidup Sofia, secara tidak langsung menceritakan tentang romantika kehidupan rumahtangga Rasulullah. Sangat manusiawi jika kadangkala terjadi kecemburuan antara istri satu dengan istri yang lain. Namun dengan kepribadian Rasulullah, maka semua masalah selalu bisa diselesaikan dengan baik. Keikhlasan yang tinggi membuat para ummul mukminin bisa mendukung  tugas-tugas Rasulullah.
            Seperti halnya tulisan yang bertema tarikh nabi, kisah yang ditulis dalam buku ini tetap menampilkan ayat-ayat Al Quran dan hadist sebagai pedomannya. Hanya saja, ayat-ayat Al Quran dan hadist hanya ditulis dalam Bahasa Indonesia, tidak ditulis dalam Bahasa Arab. Hal ini membuat pembaca yang tidak menyukai buku-buku bertema religi, bisa menikmati kisah ummul mukminin Sofia layaknya membaca sebuah buku umum.  
Bahasa yang digunakan dalam buku ini gampang dimengerti dan tidak berbelit-belit layaknya syair-syair arab. Namun pembaca harus jeli dengan pembahasan tema per bab-nya. Pembahasan tentang Sofia  tidak berada dalam bab yang berkesinambungan, tapi meskipun begitu masih koheren satu sama lain.
Untuk siapa buku ini diperuntukkan? Buku ini bisa dikonsumsi untuk semua kalangan, baik pria maupun wanita. Sebuah nutrisi pengetahuan islam yang dikemas relatif lebih ringan.
            Khususnya kaum wanita, kisah Sofia bisa menjadi sebuah inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan jaman, ilmu dan teknologi dengan kata lain modern, krisis percaya diri sering terjadi pada wanita. Mereka berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan fisik, sehingga tidak segan-segan memubadzirkan uang banyak untuk memoles seluruh lapisan kulitnya. Namun hal tersebut belum tentu membuat mereka menjadi mulia di mata Allah bahkan sekedar di mata manusia.
Untuk itu, Buku ini bisa bermanfaat langsung kepada kaum wanita, untuk tidak sekedar memperbaiki kecantikan fisiknya, tetapi juga memperbaiki hati dan ibadahnya, agar menjadi mulia dimata Allah dan manusia. Salah satunya dengan meneladani seorang wanita mulia yaitu Sofia atau Shafiyah binti  Huyaiy bin Akhtab ra.


( Hore..! ada namaku di salah satu nama istri Rasulullah..hehehe..!) 



Spirit Kesahajaan, Cintakasih Dan kemanusiaan Dari Flores

  Judul Buku       : Serenade Dua Cinta
  Penulis              : Ade Nastiti
  Penerbit            : PT. Lingkar Pena Kreativa
  Edisi                 : Cetakan I, Januari 2009
  Tebal                : 408 Halaman

        Membaca 23 bab awal dari 42 bab yang diceritakan  dalam novel ini, pembaca diajak untuk belajar materi propermas dalam kemasan naratif yang menarik. Background   penulis yang pernah terjun langsung dalam dunia pemberdayaan masyarakat, ingin mengenalkan sesuatu yang berkaitan dengan program pemberdayaan masyarakat tersebut kepada pembaca. Salah satunya adalah profesi fasilitator yang belum banyak dikenal orang. Tidak setenar dokter, guru, pns dan sebagainya, tapi profesi ini juga merupakan salah satu bentuk sebuah pengabdian kepada masyarakat.
            Dalam novel ini, diceritakan sosok Hening sebagai seorang fasilitator sebuah program pemberdayaan masyarakat. Riung, sebuah daerah di Flores yang terpencil namun rupawan, menjadi saksi bisu perjalanan hidup Hening serta usahanya mencari sang ayah, diantara pengabdian terhadap sebuah profesi dan mencari kebahagiaan yang didimpikannya.
       Tantangan demi tantangan dihadapinya. Hari-hari Hening menjadi semakin berwarna. Bertemu orang-orang baru, kebudayaan baru, pressure dan dinamika kerja yang tinggi menjadi hiburan untuknya. Takdir hidup di Flores, membawanya bertemu dengan sosok-sosok yang berharga dalam hidupnya. Riung yang sepi, bukan berarti sepi di hati Hening. Apalagi setelah dia mengenal sosok Adrian, seorang duda agnostik beranak satu yang bisa menaklukkan kerasnya hati Hening.
 Hening terjebak dalam kisah cinta yang meragukan bersama Adrian. Meskipun mereka saling mencintai, namun Adrian sudah mempunyai tunangan. Di satu sisi, Hening telah memiliki Fajar. Laki-laki yang telah sabar memahami dirinya selama 10 tahun. Jebakan cinta segitiga itu akhirnya terkuak. Ego dan idealisme Hening tentang cinta, membawanya kehilangan Adrian dan Fajar. Meskipun tercabik hatinya, Hening bisa melarutkan emosi dan menjalani profesinya di Riung dengan profesional.
            Romansa cinta Hening dan pengabdiannya terhadap masyarakat Riung membawanya bertemu sang ayah yang dicarinya, meskipun hanya sekejap. Tabir kepergian ayahnya meninggalkan keluarga 24 tahun lalu juga telah terbuka. Beban yang selama ini menggayuti hati Hening telah sirna.
Enam tahun sudah berlalu, Sosok Adrian telah menghilang lama. Namun ternyata cinta Hening kepada Adrian belum menghilang, meskipun dia telah mencoba mengacuhkan rasa itu. Hanya sebuah keyakinan bahwa cinta yang diharapkan akan benar-benar singgah kepadanya. Dan siapa sangka jika cinta itu akan kembali lagi. Cinta memang misteri, dia akan datang pada waktunya.
         Sebuah curahan pengalaman yang luar biasa. Unsur indah dan bermanfaat untuk pembaca telah menjiwai isi dan teknik penulisannya. Gaya bahasanya lugas, meskipun pilihan kata untuk dialog banyak menggunakan bahasa lokal. Namun, tidak mengurangi keindahan cerita bahkan menjadi variasi yang manis. Pembaca tetap bisa memahami maknanya karena terbantu oleh footnote yang ditampilkan.
  Novel ini dibangun dari ide brilian dengan nuansa intelektual yang tinggi. Mungkin yang patut dikritisi hanyalah alur cerita yang kurang berliku dalam perjuangan menemukan sang ayah. Konflik yang menjadi tujuan awal cerita ini, terkesan datar dan tidak menjadi konflik utama bahkan hanya menjadi “figuran” cerita, karena sedikit sekali terceritakan. Namun kekurangan itu bisa ditutupi dengan deskripsi setting cerita yang bagus. Penjelasan mengenai program pemberdayaan masyarakat, sistem pembangunan bottom up dan teknis-teknisnya, terdeskripsikan dengan jelas. Hal ini menunjukkan jika sang penulis memahami betul materi yang menjadi latar belakang cerita.
            Happy ending yang dipilih penulis untuk penyelesaian cerita, membuat unsur “indah” sebuah novel terpenuhi, yaitu menghibur. Sebab sebagian besar pembaca menyukai sebuah ending yang bahagia dibanding sedih atau menggantung.
Melihat dari unsur “manfaat”, novel ini sangat edukatif. Penulis menyampaikan sebuah pendidikan tentang kesahajaan, cinta kasih, kemanusiaan, senasib sepenanggungan dan toleransi. Hal ini ditunjukkan ketika seorang Hening, gadis kota yang berjilbab, diterima baik oleh lingkungan khatolik taat dalam kondisi perekonomian yang kurang. Mereka bahkan sangat menghargai keberadaan Hening, dan tidak mempersoalkan perbedaan keyakinan yang dianut.
            Setting tempat yaitu Flores, juga mengajarkan sebuah jendela baru bagi pembaca. Bahwa sebuah daerah yang jauh dari ibukota dan tidak seramai kota-kota di Jawa, tidak selalu menciptakan perasaan sepi  dan asing bagi orang kota seperti Hening dan teman-temannya. Syaratnya adalah, manusia tersebut bisa “membawa diri” dimanapun dia berada.
            Perpaduan ide dan pengalaman penulis, membuat novel ini sangat layak dibaca. Kisah heroik para fasilitator dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat di tengah isu-isu korupsi terhadap dana pembangunan, setidaknya bisa “membuka” wacana kita untuk percaya bahwa idealisme terhadap pembangunan itu masih ada. Bahkan lebih jauh, bisa “menggugah” hati kita untuk peduli terhadap kondisi “saudara” sebangsa-setanah air yang berada di pelosok negeri Indonesia. Meskipun terlihat sederhana, namun menyimpan makna yang dalam jika kita renungkan dan lakukan.


Dimuat di Solo pos, 22 Maret 2009