"Duh..judesnya..!"
Seringsekali, saya mendengar kalimat itu sebagai kritik dari teman. Memang cukup susah menipu ekspresi, ketika sesuatu sangat tidak berkenan di hati.
Pura-pura manis ketika hati tidak bersuasana manis? ohh..nooo.
Pernah tahu dosomuko atau rahwana..? Makhluk wayang seribu wajah.
Manis di senyum, tapi hati tetap raksasa.
Yaah..coba saja amati. Dosomuko ada dimana-mana..
My Personal Journal..The Only Truth. Ruang bebas untuk berbagi cerita dari yang penting sampai yang tidak penting, tentang cita-cita, obsesi, kisah nyata, curahan hati, opini bebas,dan semua kisah yang ingin dibagi.
23 September 2010
21 Mei 2010
Wajah Tak Bernama
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Aku berbicara tentang diriku.
Aku heran, kadang aku bisa menceritakan tentang pengalaman-pengalamanku masa lalu tanpa banyak melibatkan perasaan. Padahal pengalaman itu sangat menyakitkan.
Semua sederhana..
Bahkan karena terlalu tanpa perasaan, maka akan terasa sikap dinginnya..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Tubuh ini seakan-akan hanya objek yang hidup di dalam dunia ini, atau ada kalanya tubuh ini justru bertindak sebagai dinding pembatas dunia batinku..
Aku seperti sedang berjalan ke sebuah puncak gunung dengan membawa usulan pelucutan senjata..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Kali ini aku tidak hanya bicara tentang diriku, tapi juga tentang dia..
Siapa dia, semua juga masih teka-teki. Dia masih berupa sebuah pertemuan belum berupa penyatuan.
Namun tiba-tiba, aku tidak yakin apakah dia menyadarinya saat Tuhan memberikan hadiah pertemuan itu..??
Meskipun aku sendiri menerima hadiah pertemuan itu dengan rasa terima kasih.
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Apakah aku tampak seperti milik seseorang?
Aku mempercayai bahwa aku bebas merdeka.
Itulah sebabnya, aku butuh dia. Dia yang akan berperan dalam banyak sisi kehidupanku, bahkan juga sebagai pelindung profesionalku-ku..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, siapa dia?
Dia..
Aku ingin melihat ke dalam matanya ketika aku menatapnya, aku tidak menemukan wajah pendusta di sana..
Bahwa dia bukan pendusta..
Aku terus berjalan, menemukan jalan pulang ke rumah, kepada diriku sendiri.
Mengunjungi suatu tempat ke tempat lain, melihat banyak kehidupan dengan wajah-wajah yang tak bernama..
Aku selalu bergerak demi mencari sebuah tempat yang akan aku sebut “rumah”ku.
Dimana ada Sebuah kasih sayang, kelemahlembutan, rasa cinta dan semua perasaan baik berkumpul di sana..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Aku berbicara tentang diriku.
Aku heran, kadang aku bisa menceritakan tentang pengalaman-pengalamanku masa lalu tanpa banyak melibatkan perasaan. Padahal pengalaman itu sangat menyakitkan.
Semua sederhana..
Bahkan karena terlalu tanpa perasaan, maka akan terasa sikap dinginnya..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Tubuh ini seakan-akan hanya objek yang hidup di dalam dunia ini, atau ada kalanya tubuh ini justru bertindak sebagai dinding pembatas dunia batinku..
Aku seperti sedang berjalan ke sebuah puncak gunung dengan membawa usulan pelucutan senjata..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Kali ini aku tidak hanya bicara tentang diriku, tapi juga tentang dia..
Siapa dia, semua juga masih teka-teki. Dia masih berupa sebuah pertemuan belum berupa penyatuan.
Namun tiba-tiba, aku tidak yakin apakah dia menyadarinya saat Tuhan memberikan hadiah pertemuan itu..??
Meskipun aku sendiri menerima hadiah pertemuan itu dengan rasa terima kasih.
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, apakah kamu ingat aku?
Apakah aku tampak seperti milik seseorang?
Aku mempercayai bahwa aku bebas merdeka.
Itulah sebabnya, aku butuh dia. Dia yang akan berperan dalam banyak sisi kehidupanku, bahkan juga sebagai pelindung profesionalku-ku..
Sekali lagi aku melihat ke cermin, di dalam wajah yang menatap balik ke arahku..
Katakan, siapa dia?
Dia..
Aku ingin melihat ke dalam matanya ketika aku menatapnya, aku tidak menemukan wajah pendusta di sana..
Bahwa dia bukan pendusta..
Aku terus berjalan, menemukan jalan pulang ke rumah, kepada diriku sendiri.
Mengunjungi suatu tempat ke tempat lain, melihat banyak kehidupan dengan wajah-wajah yang tak bernama..
Aku selalu bergerak demi mencari sebuah tempat yang akan aku sebut “rumah”ku.
Dimana ada Sebuah kasih sayang, kelemahlembutan, rasa cinta dan semua perasaan baik berkumpul di sana..
06 Mei 2010
Sepanjang waktu sampai detik ini saya hidup, rasanya sangat minimalis saya menuntut hak atau membalas secara lisan terhadap kritikan tidak membangun dan tekanan yang menghancurkan.
Saya mengira, jika saya melakukan pembalasan dengan lisan saya, justru hanya akan menuai kerugian dan penyesalan yang besar. Bahkan bisa menimbulkan kerenggangan antara saya dengan orang yang mengkritik saya tersebut. Sebab, kalimat balasan yang disertai emosi tinggi bisa jadi jauh lebih terekspresikan “kepedasan”nya. Lebih dari itu, akan bisa menyulutkan api permusuhan dari sikap saya yang mungkin tidak terima.
Menurut saya, jalan terbaik untuk menyikapi kritikan tidak membangun dari orang lain atau celaan yang memerahkan telinga itu adalah dengan tidak peduli- lekas melupakan- pemakluman- menganggapnya tidak pernah terjadi- menutup telinga dan mata dengan tetap sabar.
Laut yang luas tidak akan terpengaruh oleh lemparan batu seorang bocah,
apalagi Cuma berupa batu kerikil meskipun kerikil yang tajam bentuknya.
Mendengar kalimat yang tak mengenakkan telinga, jangan buru-buru membalas dengan kalimat yang serupa tak enaknya atau 10 x lebih tak mengenakkannya. Redamlah “kepedasan”itu dengan pura-pura tidak tahu, Anggaplah “si pengkritik tak tahu adat” bicara sendiri dengan tembok bangunan tinggi. Orang gila tuh..
Tapi, hal ini hanya berlaku untuk kritikan tak membangun-celaan dengan penuh kebencian dan memerahkan telinga.
Sebaliknya, jika mendengar pujian beruntun terucapkan untuk kita, bersikaplah seolah-olah tak mendengarnya, setelah mengucapkan kata terima kasih dan membisikkan kata amin dalam hati.
Karena setiap pujian baik adalah doa.
Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik dan halus, meski dalam hati&otakmu akan selalu terputar kata “Enyahlah” untuk kejahatan&pelaku kejahatan tersebut..
23 April 2010
Kenikmatan Vs Penderitaan (Tentang Cinta)
Pernah mendengar ketika seseorang ditanya tentang tujuan hidupnya, dia menjawab “ingin menderita”?
Jika ada, wah seseorang tersebut pasti sangat langka dan aneh. Sepanjang pengetahuan saya, jawaban yang lazim untuk tujuan hidup setiap manusia normal adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sebuah kenikmatan.
Penderitaan..
Adalah kehidupan duniawi selain kenikmatan yang sangat tidak diharapkan keberadaannya dalam setiap kehidupan manusia.
Kenikmatan dan penderitaan bisa jadi muncul karena alasan “saya suka itu” atau “sesuatu yang menyakitkan”. Jika mendapatkan sesuatu yang kita sukai, maka kenikmatan akan kita rasakan. Tapi jika sebaliknya, maka akan terasa menyakitkan untuk kita sehingga akhirnya kita merasa menderita.
Kenikmatan dan penderitaan adalah realitas dunia manusia.
Lagi-lagi tentang cinta..
Sebuah tema dunia yang tidak pernah habis diucapkan, karena cinta telah ada sejak manusia ada di dunia. Jika manusia belum punah, maka tema cinta pun tak akan ada matinya.
Cinta itu berisi masalah? Bisa saja.
Coba jika kalian mau, inventarisasikan kisah cinta orang-orang di sekitarmu. Pasti akan menemukan variasi masalah mereka sendiri-sendiri.
Untuk seorang yang mungkin sedang patah hati, kecewa, sakit hati, jatuh cinta, kalut dan gundah dengan masalah cinta, bisa jadi menginventarisasi masalah cinta orang lain menjadi hiburan positif yang membuatnya merasa tidak menderita sendiri.
Ketika drama cinta mengoyak hati sehingga membuat luka dalam yang hebat, banyak air mata terbuang untuk melepaskan diri dari luka tersebut. Dunia akan terasa menjadi sempit.
Sebuah kata support yang klise sekali..” Semua akan ada hikmahnya”..
Tapi cobalah benar-benar cari..
Semakin berusaha mencari hikmahnya, semakin kesulitan menemukannya. Justru membuat tidak bisa terlepas dari luka tersebut.
Semakin berusaha melupakan, semakin terjebak dalam kenangan cinta tersebut.
Cinta butuh sebuah perasaan yakin..
Saya cukup setuju dengan kalimat tersebut. Hanya saja seringkali yang menjadi masalah dalam sebuah keyakinan adalah..
”Bila berulang-ulang merasa kecewa, sehingga tidak mau percaya lagi”
Meski naif menganggap bahwa segala sesuatu itu mungkin, keyakinan yang sehat harus selalu dipupuk setiap hari.
Setiap dokter pun kadang-kadang merasa frustasi sebab apa yang manjur untuk seseorang ternyata tidak selalu manjur untuk seseorang yang lain.
Tapi, jangan pernah merasa bahwa cinta ibarat mencari ikan di pohon.
Cinta dalam teori tidak akan setajam prakteknya. Tapi bagaimanapun juga, dimana ada manusia-di situ akan selalu ada cerita cinta.
21 April 2010
Time Is Enemy or Frend?
Kata orang jawa, " Urip iku mung mampir ngombe" alias hidup itu hanya mampir minum. Mungkin karena salah mengartikan filosofi ini, jadi banyak yang suka kebanyakan minum dan mabuk di dunia..
Aku nyontek tulisannya SEAN COVEY :
1. Untuk tahu nilai 1 tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas.
2. Untuk tahu nilai 1 bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
3. Untuk tahu nilai 1 minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
4. Untuk tahu nilai 1 hari, tanyakan pada buruh harian dengan 6 orang anak yang harus diberi makan.
5. Untuk tahu nilai 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
6. Untuk tahu nilai 1 detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
7. Untuk tahu nilai 1 milidetik, tanyakan pada peraih medali emas cabang lari di olimpiade.
Waktu adalah sebuah aljabar spiritual yang akan selalu ada dalam kehidupan. Apa artinya? Intinya adalah..ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara aja gitu. Sudah hapal kan? Pasti..!
Tinggal "how to do it" aja..
Aku nyontek tulisannya SEAN COVEY :
1. Untuk tahu nilai 1 tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas.
2. Untuk tahu nilai 1 bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
3. Untuk tahu nilai 1 minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
4. Untuk tahu nilai 1 hari, tanyakan pada buruh harian dengan 6 orang anak yang harus diberi makan.
5. Untuk tahu nilai 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
6. Untuk tahu nilai 1 detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
7. Untuk tahu nilai 1 milidetik, tanyakan pada peraih medali emas cabang lari di olimpiade.
Waktu adalah sebuah aljabar spiritual yang akan selalu ada dalam kehidupan. Apa artinya? Intinya adalah..ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara aja gitu. Sudah hapal kan? Pasti..!
Tinggal "how to do it" aja..
03 Maret 2010
Bogor di siang hari, panas dan berdebu.
Suara klakson angkot, pejalan kaki yang berjalan sembarangan tidak di jalur trotoar karena "si trotoar" dikuasai oleh pedagang..
Memang cukup ribut, tapi ketika dinikmati..emmh..asyik juga.
Sesungguhnya nikmat Allah mana yang kamu dustakan-
Fabiayyii 'alaairobbikumaa tukadzibaan..
Semoga tidak salah, karena sedang tidak buka Al Qur'an sekarang.
Yang jelas, Ayat ini ada di dalam QS Ar Rahman..
Kenapa aku ingat ayat tersebut?
Ketika sehat lahir dan batin, dunia akan bisa ternikmati.
Lebih syukur lagi, jika "rekening" juga sehat..hehe.
.
Suara klakson angkot, pejalan kaki yang berjalan sembarangan tidak di jalur trotoar karena "si trotoar" dikuasai oleh pedagang..
Memang cukup ribut, tapi ketika dinikmati..emmh..asyik juga.
Sesungguhnya nikmat Allah mana yang kamu dustakan-
Fabiayyii 'alaairobbikumaa tukadzibaan..
Semoga tidak salah, karena sedang tidak buka Al Qur'an sekarang.
Yang jelas, Ayat ini ada di dalam QS Ar Rahman..
Kenapa aku ingat ayat tersebut?
Ketika sehat lahir dan batin, dunia akan bisa ternikmati.
Lebih syukur lagi, jika "rekening" juga sehat..hehe.
Bogor-Depok.....Depok-Bogor..!!
Macet..!!
.
Langganan:
Postingan (Atom)