09 Februari 2010

Pengen ke Bandung euiyy..!!! 
Pengen mengunjungi sebuah rumah disana..
Apakah masih seperti dulu suasananya..?
Ketika aku merasakan sebuah..
Home sweet home..


                                                                                                                Memori manis 2007 
untuk sebuah keluarga di Sedangserang, Bandung




Tiiit..tit..tit..!!
Layar ponsel menyala, terpampang sebuah tulisan :

Sadarilah..
Bahwa dirimu sangat istimewa.
Dan yang tahu adalah dirimu sendiri.
Di dunia ini ada hal yang kita punyai dan sering tidak kita sadari
Namun harus dikelola dengan baik.
Bersiaplah, bahwa ternyata “setiap” kita adalah 
membawa “pesan’..
Pesan untuk sebuah takdir.


Sebuah tulisan yang diterima “Sahabat”ku. Sederhana tapi penuh makna..
“Sahabat”ku menunjukkan pesan itu kepadaku.
“ Pesan sebuah takdir..? Menurutmu, apa maksud kalimat iu..?” Tanya “Sahabat”ku.

Aku mencoba memahami kalimat itu..
Seperti biasa, Aku akan selalu mengomentari sesuatu yang ingin dibagikan “Sahabat”ku kepadaku..

Aku mulai berkata dengan pelan tapi pasti :

“ Pertama-tama, kau perlu menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Segala hal terjadi karena suatu maksud yaitu sebuah SKENARIO besar atau penunjang dari sebuah skenario besar tersebut.
Pertemuanmu dengan siapapun di dunia ini, terjadi karena rancangan Tuhan untukmu.
Satu hal yang pasti harus kau yakini adalah..
Bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan keburukan dan kejahatan untukmu, untuk aku atau untuk kita semua.

Sebuah contoh sederhana..
Bayangkan, betapa banyak manusia di dunia ini, betapa banyak manusia di Indonesia. Seandainya boleh memilih, tentu saja kita akan memilih bertemu orang-orang yang bisa membuat kita bahagia. Iya bukan?
Tapi ternyata tidak..
Meski probabilitas untuk bertemu orang-orang yang “menyebalkan” itu kecil, tapi ternyata kita tetap dipertemukan dengan mereka.

Pasti ada suatu rencana di balik pertemuan ini bukan?

Hanya saja, seringkali kita hanya berhenti pada perasaan negatif yaitu kekesalan terhadap orang yang “menyebalkan” ini, tanpa melihat pelajaran apa yang ingin diberikan Tuhan melalui orang-orang “menyebalkan”, yang datang dalam hidup kita ini..
Berlaku juga sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan.
Ada rancangan Tuhan pada semua hal yang terjadi..

Tidak perlu dibikin rumit..
Dalam kehidupan ini, kita dipertemukan dengan orang-orang yang memberikan kebahagiaan, perhatian, kasih sayang, sanjungan, pengertian dan cinta kepada kita. Tapi di sisi lain, kita juga dipertemukan dengan orang-orang yang membuat kita marah, sedih, kesal, kecewa, tersinggung dan mungkin teraniaya.

Mungkin, ada masa kita harus mengeluh dan mencari  alasan kenapa Tuhan mengirimkan orang-orang yang “menyebalkan” juga, jika orang-orang yang “menyenangkan” saja sangat banyak di dunia ini.
Kemungkinan yang kebenarannya tinggi adalah..
Mereka baik yang “menyebalkan” maupun yang “menyenangkan” memang sengaja diutus Tuhan untuk sebuah pelajaran.

Pesan dari sebuah Takdir..
Bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Melainkan bagian dari sebuah skenario besar hidup kita masing-masing..


Semua orang bisa mencela semaunya, 
mengeluh atau bahkan mengutuk..

Diperlukan sebuah karakter dan pengendalian diri untuk bisa memahami dan memaafkan..

Rahasia awal untuk bisa memaafkan adalah..
tidak menafsirkan apapun semaunya..

07 Februari 2010

Senin oh senin-ku......



Mengarungi hari-hari sepi..
Aku tanpamu..aku tanpamu..

Bila esok hari datang lagi..
Kucoba untuk hadapi semua lagi..
Aku tanpamu..aku tanpamu..

Bila aku dapat bintang yang berpijar..
Mentari yang tenang bersamamu di sini..
Ku dapat tertawa dan menangis denganmu..
Di tempat ini aku bertahan..

Aku masih tetap di sini..
Melewati semua yang terjadi..
Aku tanpamu..aku tanpamu..

Dst..



Pengen nyanyi niihh..!!!
Meski lagunya biasa terdengar dimana-mana..
Huuufff..!!


“ Sahabat”ku berteriak kegirangan..
“ Temanku, aku sangat bahagia hari ini. Sangat..sangat..bahagia..”

Aku menjawab kegirangan yang ditunjukkannya..
“ Apakah kamu yakin, bahwa kamu benar-benar bahagia..atau hanya sebuah kesenangan belaka..?”

“ Sahabat”ku terlihat bingung..

Aku melanjutkan kalimatku.. 
Seringkali perasaan senang menyamar menjadi perasaan bahagia. Sehingga mengatakan bahwa itulah kebahagiaan..

Otak VS Hati (Sebuah Persahabatan)


Pada suatu hari, aku sedang menikmati “makanan” sehatku. Tanpa sengaja, aku mendengar percakapan “Sahabat”ku dengan kekasihnya. Tidak sengaja aku menguping, hanya kebetulan mendengar.
Sang kekasih “Sahabat”ku berkata dengan lembut pada “Sahabat”ku, ”Tampillah apa adanya..! Karena aku menyukaimu yang apa adanya..”

Indah sekali, bukan?

Beberapa saat kemudian setelah Sang Kekasih pulang, “Sahabat”ku menemuiku dengan binaran-binaran cahaya di matanya. Terlihat berseri-seri..bertambah “cantik”. Aku tahu, sahabatku memang selalu nampak “cantik”..

Aku letakkan “makanan sehat”ku untuk menyapa kedatangan “Sahabat”ku ini..
“ Kamu tampak berseri sekali saat ini. Apakah karena kekasihmu?”

“Sahabat”ku mengangguk..
 “ Tentu saja. Dia terlihat sangat mencintaiku..”

Tentu saja, aku turut bahagia mendengarnya..

“Sahabat”ku melanjutkan kalimatnya..
 “ Dia berpesan kepadaku untuk selalu tampil apa adanya..”

Aku menanggapinya..
“ Oya? Menurutmu, kamu akan lakukan itu..?”

Dia menjawab dengan binaran indahnya..
“ Tentu saja..! aku mencintainya..”

Aku menganggukkan kepalaku untuk memberikan applaus dengan keputusannya itu..
“ Memang seharusnya. Kamu harus selalu tampil apa adanya..”

Setelah diam sejenak, “Sahabat”ku mulai mengalihkan matanya benar-benar mengarah pada diriku..
“ Selama ini, akulah yang selalu bercerita padamu. Aku ingin sekali mendengar cerita-ceritamu..”

Aku mulai tertarik dengan permintaannya..
“ Ceritaku? Apa yang kauketahui tentang aku..?” Tanyaku berbalik arah.
Aku dan “Sahabat”ku memang sangat dekat, tak bisa dipisahkan. Tapi dia tidak selalu tahu aku, sedangkan aku selalu tahu dia..

Kening “Sahabat”ku mulai mengernyit..
“ Setahuku, kamu jauh lebih baik dari aku. Kamu selalu membuatku menjadi baik-baik saja. Apa rahasiamu..?” Tanyanya.

Aku tersenyum sekilas..
“ Rahasiaku sangat mudah, yaitu aku tidak pernah tampil apa adanya..”

“Sahabat”ku terkejut dengan jawaban itu..
“ Aku tidak paham..”

Aku tersenyum kembali. “Sahabat”ku yang “cantik” ini seringkali menjadi sangat naif. Entah naif, entah bodoh, entah benar-benar polos..

Aku mulai menjelaskan..
“ Aku tidak memakai pedoman Be myself, tapi aku memilih kalimat nyaman untuk semua hal yang aku lakukan. Jika aku nyaman ketika aku menjadi diriku sendiri, aku akan lakukan. Tetapi ketika aku nyaman saat harus berlaku seperti orang lain dan melupakan keberadaan diriku sejenak atau sekedar tidak tampil apa adanya diriku, aku akan lakukan itu. Namun, bukan berarti aku memakai “topeng”.
Aku hanya mengambil pilihan “nyaman”..
Aku bisa menjadi baik..baik sekali. Tapi aku juga bisa jahat, namun hanya sejahat yang aku mau.
Aku melakukan sesuatu, karena aku suka melakukannya.
Kenapa aku begitu? Karena aku tahu kelemahan diriku sendiri. Aku rasa, tidak semua orang bisa menerima, ketika aku tampil apa adanya. Bahkan bisa-bisa, mereka yang jahat akan menggunakan kelemahanku itu untuk membuatku tidak nyaman.

“Sahabat”ku menanggapi..
“ Bisa berikan aku contoh..?”

Aku mengangguk..
“ Contoh mudah dalam hal sehari-hari yang sangat sepele dan bisa dilihat...Aku suka berparfum, aku suka tampil “tidak ala kadar”nya ketika siap bertemu orang, aku tidak suka memakai sandal jepit kamar mandi ketika keluar rumah, aku suka aksesoris jam tangan, aku suka menghiasi jemariku, dan sebagainya. Aku lakukan karena aku menikmatinya. Tanpa peduli ada permintaan dari siapapun.
Aku merasa nyaman dengan penampilanku, sehingga aku bisa tersenyum ramah. Efeknya,  orang lain juga akan ramah kepadaku. Lebih jauh, aku merasa diterima dengan tampilan awal itu.
Menurutku, sebuah kesan pada pandangan pertama itu penting menurutku. Setelah melihat, mereka baru akan mengenal bagaimana diriku yang sebenarnya. Saat itulah aku membutuhkanmu orang sepertimu, “Sahabat”ku..
Contoh lainnya, tentu saja masih banyak..
 
“Sahabat”ku menganggukkan kepalanya..
“ Apakah kekasihmu pernah memintamu untuk berubah..atau seperti kekasihku yang selalu meminta aku untuk tampil apa adanya..?”

Aku mengangguk dan tersenyum..
“ Aku dengan kekasihku, aku dengan saudaraku, atau bahkan aku dengan orangtuaku sekalipun adalah sebuah kesatuan yang tetap berdiri sendiri-sendiri meskipun bisa jadi ada pertautan darah atau hati di sana.
Selama aku melakukan hal positif, kenapa tidak jika aku mengambil pilihan untuk menjadi diriku, yang aku rasa adalah diriku dalam kondisi yang terbaik..
Mereka tidak selalu menyertai tiap detik kita bukan?

“Sahabat”ku mengangguk..
“ Menurutmu aku salah jika aku tampil apa adanya aku?”

Aku menjawab..
“`Sama sekali tidak salah. Memang seharusnya begitu..
Semua hal memang bisa berubah. Begitu juga dengan diriku. Hanya saja, jika diriku berubah, aku tetap merasa nyaman dengan perubahan itu. Tentu saja, perubahan ke arah yang lebih baik.
Satu lagi, “Sahabat”ku..
Aku tidak ingin menghancurkanmu, dengan cara  aku menyerupai dirimu 100%..”





Untuk Aku-sebuah otak yang berharga,
 untuk “Sahabat”ku-sebuah hati yang bernuansa






04 Februari 2010

Harta Terpendam


Berkuntum-kuntum kamboja putih terlihat menghiasi gundukan tanah yang dihiasi bata berplester, yang berfungsi sebagai pengaman agar tanahnya tidak longsor..

Pada suatu sore, ketika aku menemani “Sahabat”ku..

“ Bagian dari tubuhku sudah terpendam di balik tulang di bawah batu itu..” ,
Kata “Sahabatku” pelan.

Aku memandang ke sekeliling..
Pekuburan yang cukup besar. Konon cerita, pada jaman dahulu..pekuburan ini hanya digunakan untuk kalangan bangsawan dan keluarganya. Aku melihat ada beberapa cungkup untuk pemakaman para piyayi(sebutan untuk kalangan ningrat/terhormat), ada pamijen yang masih kosong.
Namun seiring menciutnya lahan perkotaan, tanah pekuburan itu sudah menjadi milik masyarakat umum.
Ah, piyayi atau atau bukan..toh mereka sama-sama hanya menempati tanah seluas 2x1 m. Tidak berdaya di kuburnya meski gelar piyayi disandangnya, tapi dia tanpa amalan di dunianya dulu. Lebih mulia, kaum jelata yang punya amalan bagus tentunya.

“Sahabat”ku masih menekuri satu makam di depannya. Sebuah makam sederhana, tanpa bangunan marmer atau apapun di atasnya. Hanya sebuah pohon kamboja putih tua, seakan-akan melindungi tanah makam itu dari pancaran matahari yang panas.

“ Kamu merindukannya..?” Tanyaku.

“Sahabat”ku mengangguk..
” Aku tidak tahu apakah Dia benar-benar tenang, atau malah menderita di dalam sana. Sepanjang yang aku kenal, Dia sangat baik padaku. Aku tidak rela jika Dia menderita..”

Aku tersenyum..
“ Bapakmu pasti tidak menginginkan kamu bersedih bukan..?” Tanyaku.

“Sahabat”ku mengangguk..
” Sejak 4 tahun lalu, aku sering sedih dengan bulan Februari. Aku selalu merasa bersalah, meski aku tidak tahu kenapa aku harus merasa seperti itu..

“ Lho, kenapa..?” Tanyaku.

“ Entahlah..! Eh, kamu mendengar kisahku dengan beliau?” Tanya “Sahabat”ku.

“ Tentu saja..ceritakanlah..!” Kataku tertarik.

“ Duduklah..! Aku tidak mungkin menceritakan semuanya..sangat panjang dan sangat manis kisahnya..” Kata “Sahabat”ku.

Aku mengangguk tanda setuju. Tak lama kemudian, dia mulai bercerita..

Masa kecilku sangat berwarna..
Sepanjang hariku di masa kecil, aku tidak selalu bertemu ibu kandungku yang aku panggil mama. Hanya malam hari saja aku bertemu keluargaku.
Sepanjang siangku, aku diasuh oleh pengasuhku yang biasa aku panggil ibu sampai sore hari. Entah dari lingkungan, salah asuhan atau memang karakterku, akhirnya aku tumbuh menjadi agak “bengal”, tomboy dan lain dibanding saudara-saudaraku.
Namun ketika malam hari menjelang tidur, aku selalu takluk di pangkuan Bapakku yang selalu mendongengkan cerita wayang sebagai pengantar tidurku.
Sesekali aku cerita..”Pak, tadi aku berkelahi. Pukul teman laki-laki..”.
Bapakku menanggapinya, “ Kenapa?”
Aku menjawab,” Karena dia nakal, menganggu temanku..”
Bapak pun hanya mengangguk..” Ya sudah, besok jangan lagi. Tidak usah bilang mama, ya..! Nanti dimarahi..” Kata beliau.
Selanjutnya beliau akan melanjutkan cerita wayang yang selalu sulit aku pahami, sampai aku terlelap.
Cerita-cerita “bengal”ku hari itu hanya menjadi rahasia-rahasia kecil kami berdua.

Meskipun terlihat santai dengan kebengalanku, ternyata bapak tetap kuatir. Pada suatu malam, tak sengaja aku mendengar obrolan antara bapak dan mama..
Mereka berdua terdengar khawatir, karena aku belum bisa sama sekali membaca al-Qur’an. Teman-teman sebayaku sudah rajin ikut madrasah diniyah, namun aku selalu menolak jika mau didaftarkan.
Akhirnya, dengan memaksa bapak membawaku ke seorang guru ngaji tua yang cara mengajarnya masih sangat kuno. Dia tidak segan-segan memukul pakai  kayu berbentuk kecil-panjang, yang biasa digunakan untuk penunjuk tulisan.
Meski berawal dari ketakutan setiap belajar dengannya, ternyata membuahkan hasil.
Tidak butuh waktu lama, aku bisa lancar baca al Qur’an tanpa tahapan iqro’ jilid 1 sampai 6.
Kegigihan bapakku berlanjut..
Beliau mendaftarkanku di sebuah majelis ta’lim di Masjid Agung Surakarta. Yang mempelajari qiro’atil qur’an-seni membaca al Qur’an dengan indah.
Aku selalu bilang..”aku tidak bisa, Pak..” Tapi beliau tidak memaksaku bisa. Aku hanya disuruh bangun pagi setiap minggu, dan berangkat ke Masjid Agung.
Awalnya memang berat, karena aku sering ngantuk di kelas.

Akhirnya, masa kebengalanku berakhir. Aku menjadi sangat patuh..
Aku merasa sangat bahagia melihat bapakku tersenyum puas di deretan audien sebuah pengajian akbar di desaku, ketika aku berdiri di panggung membacakan ayat-ayat al qur’an saat itu.
Salah satu komentar bapak saat itu adalah..” Lengkinganmu kurang tinggi..”
Minta ampun, itu saja sudah ketakutan jika suara tidak nyampai..hehe.

“Sahabat”ku diam sejenak..
“ Tapi, aku tidak pernah bisa menjadi seperti yang dia inginkan..”

“ Lho, kenapa..?” Tanyaku.

Dulu, bapak ingin aku menjadi polwan. Lucu ya? Beliau sangat bangga ketika aku masuk menjadi pasukan inti pramuka, aktif ini-aktif itu. Apalagi ketika SMA, aku terpilih menjadi anggota tim paskibra ketika menjelang 17 agustus. Beliau sangat bangga.
Tapi sayang, semua tidak menjadi terlaksana.
Aku mengalami kecelakaan, ketika pulang sekolah dan mau persiapan latihan paskibra sore harinya. Mau tak mau, kesempatan itu pupus sudah. Aku harus tinggal di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama, pemulihan, ini-itu..ah menyebalkan.

Tapi, wajah bapak selalu tenang..
Beliau selalu menemaniku melakukan check up di rumah sakit tempat aku dirawat sampai kondisiku dinyatakan baik, meski harus tetap menjalani therapi-therapi.
Mau tak mau keinginannya juga harus pupus. Tidak mungkin berharap menjadi seorang polwan pada putrinya yang saat itu belum bisa menerima getaran keras, bentakan dan tekanan emosi yang tinggi, meski secara fisik sudah dinyatakan sehat.

Beliau selalu berwajah tenang..
“ Manusia boleh berencana, tapi Tuhan selalu punya kuasanya..” Kataku mencoba menghibur “Sahabat”ku.

Mungkin juga seperti itu..
Tidak pernah juga aku melihat ekspresi penyesalan atau kecewa di wajahnya. Beliau semakin menyayangiku, membelai kepalaku, memberikan cerita-cerita lucu dibumbui nasehat-nasehatnya, menyimpan rahasia-rahasia kecil kami dari mama dan saudara-saudaraku.
Beliau juga suka ketika aku mulai tampil feminin. 
Namun ada sayangnya..

“ Kenapa..?” Tanyaku.

Dulu, bapak sempat tidak mengijinkan aku berjilbab setiap harinya.

“ Oya..? Bukankah dia ingin kamu bisa ngaji, bisa jadi qori’..lalu kenapa beliau tidak ingin kamu berjilbab setiap harinya..?” Tanyaku.

Entahlah..
Mungkin itu salah satu ketidaksempurnaannya sebagai laki-laki yang sangat baik.

“ Beliau membutuhkanmu..” Kataku.

Iya, aku tahu sekali. Aku selalu mendoakannya di setiap sholatku.
Ah, rasanya baru kemarin aku ngecat rumah dengan beliau. Tertawa lepas bersama, duduk bertiga di teras-garasi..
Tiba-tiba, malam itu aku harus mengantar dan menemaninya di ICU rumahsakit, melihat nazaknya, Sampai vonis dokter bahwa beliau sudah tidak ada.
Aku masih berharap dokter dan alat2 rumah sakit itu salah ketika menemani jenazahnya.

Aku terus menatap dadanya berharap akan bergerak lagi. Sesekali kudekatkan jariku di depan hdungnya agar bisa merasakan nafasnya kembali.
Tapi itu tidak pernah terjadi..
Ah, ternyata sudah cukup lama kejadian itu tapi bayangan itu tidak pernah hilang dari ingatanku..

“ Sudahlah, bapak lebih tenang di sana. Meski kamu merasa “bagian tubuh”mu telah ikut terpendam di sana..tapi bagian tubuhmu yang lain harus tetap melanjutkan hidup untuk lebih baik..” Kataku.

“Sahabat”ku mengangguk..

Sore beranjak semakin petang. Aku dan “Sahabat”ku, bangkit meninggalkan pekuburan yang lengang itu.

“ Sebuah hartamu terpendam di tempat yang semua penghuninya tidur sepanjang masa. Tidak akan ada yang mengusiknya. Tidak ada pencuri di sini. Aman..”
Bisikku pada “Sahabat”ku.


( 4 Februari, pada suatu sore di makam bapak)