My Personal Journal..The Only Truth. Ruang bebas untuk berbagi cerita dari yang penting sampai yang tidak penting, tentang cita-cita, obsesi, kisah nyata, curahan hati, opini bebas,dan semua kisah yang ingin dibagi.
20 Agustus 2009
Semua Tentang Kita
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
Syair dari Peterpan ini, sangat mewakili semua kisah dalam tulisan ini. Sebuah perjalanan dalam hidup, tentu melibatkan sesuatu baik itu manusia tau sebuah tempat, yang akhirnya menjadi sebuah memori yang meninggalkan kesan yang indah. Sebuah pertemuan terjadi, persahabatan, rasa kekeluargaan dan akhirnya terjadi perpisahan secara tempat, karena harus melanjutkan perjalanan hidupnya masing-masing.
Wisma Bayu Murti, Yogyakarta..
Sebuah rumah dengan halaman luas dan pepohonan yang rimbun. Dia adalah rumah keduaku sampai sekarang, dan menjadi rumahku di jogja selama hampir delapan tahun ini. Tapi, mungkin sekarang sudah tidak sepenuhnya lagi. Mau tahu? Karena aku sudah tidak punya kamar pribadi lagi di sana..hehehe.Hehehe, kasihan deh aku, masa bu kost gak punya kamar..?
Banyak kisah kehidupanku terjadi di sana. Sebuah persahabatan dan kebersamaan. Yang jelas, aku merasa memiliki keluarga bahagia di rumah itu.
Berbincang di sore hari sambil menikmati “gorengan” dari warung sebelah, buka puasa dan sahur bersama atau sesekali tarawih bersama ketika hujan di bulan ramadhan, saling pinjam meminjam barang elektronik, piket bersama, banyak hal positif dilakukan di sana.
Memiliki teman-teman senasib seperjuangan, rasanya memiliki sebuah keluarga. Meskipun sekarang, semua harus berpisah untuk melanjutkan perjuangan hidupnya masing-masing.
Wisma Bayu Murti mungkin hanya sebuah tempat transit bertemu, tinggal bersama (meskipun secara finansial tetap sendiri-sendiri, namanya juga anak kost..!), tertawa, bersedih dan akhirnya berpisah.
Begitu banyak pertemuan dan perpisahan terjadi, namun bangunan ini tetap berdiri dengan perpaduan suasana sejuk dan angker yang diciptakannya.
Rumah ini sekarang tidak “seindah” beberapa tahun kemarin. Karena “kalian” sudah tidak ada di sana. Tapi dimana pun kalian berada, semoga kita selalu bahagia..amin.
Sweet memories untuk Annisa, Anny, Adiba, Nana, Lia, Luki, Kunti, Nurma, Sri, Yuyun, Nurma, Niken, Nori, dan semua teman yang pernah menjadi keluargaku di Wisma Bayu Murti. Juga untuk Alm. Riska yang mendahului “berpulang” ke hadiratNya.
Jalaksana, Kuningan..
Hawa sejuk pegunungan, tenang dan tidak bising. Itulah kesan pertama ketika aku menginjakkan kaki di Maniskidul, Jalaksana. Sebuah daerah di lereng Gunung Ciremai, Jawa Barat. Bukan manusia yang membuat aku terkesan di sini, namun suasana daerahnya. Angin gunung yang bertiup kencang di malam hari, dipadukan dengan suasana senyap yang terjadi begitu maghrib terjelang, membuat chemistry aneh di hati. Sangat menakutkan untukku.
Namun suasana itu, membawa perasaanku bahwa hakikat manusia pada dasarnya adalah sendirian. Oh God, aku sangat takut dengan suasana itu..
Pabuaran, Cirebon..
Mulanya biasa saja, namun akhirnya mengesankan. Sebuah rumah sederhana milik seorang pensiunan pegawai kecamatan. Seorang bapak tua yang sangat baik hati. Tidak lama aku tinggal di sini, atau tepatnya kami, karena pada saat itu aku tinggal ber-11 dalam sebuah tim penelitian.
Rumah ini menjadi tempat terakhir kebersamaan kami. Hingga lagu “kota mati”menjadi soundtrack perjalanan itu.
Cirebon yang panas, menjadi terasa indah di rumah ini. Bahkan pikiranku yang terbelenggu dengan kesedihan tentang cinta, menjadi terbuka lagi. Terlihat sepele memang! Tapi, tidak untukku. Ketika aku benar-benar merasa memiliki cinta itu, ternyata Allah berkehendak lain. Kesedihan yang cukup dalam.
Tapi, seseorang telah membantu membuka hatiku, bahwa di atas langit masih ada langit. Bahwa, ketika aku merasa sangat kehilangan orang yang menurutku "terbaik" untuk masa depanku, kesedihan berlebihan dan perasaan-perasaan negatif lain membelenggu hatiku. Dan ternyata itu salah. Kegagalan itu hanya sebuah siasat kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik lagi.
“HATIku” sembuh di sini.
Terima kasih untuk seorang teman yang telah membuat "batu" es hatiku mencair dalam hitungan menit. Aku sangat beruntung pernah bertemu denganmu.
Sebuah rumah di Sedang Serang, Bandung..
Ini adalah rumah seorang teman. Aku bahkan tidak tahu alamatnya dengan jelas. Yang kuingat, tidak perlu waktu lama untuk menuju ke gasebo-nya Bandung. Sebuah rumah mungil dan bersih. Rumah ini sangat menyenangkan di mataku. Lebih dari menyenangkan secara fisik, namun lebih komplit dari itu.
Ada aura kasih sayang utuh di rumah ini. Sempurna!
Seorang ayah yang bijak dan berwibawa, ibu yang sangat perhatian dengan anak dan suami, dua orang anak penurut yang sholeh-sholehah dan bisa membanggakan orangtuanya. Orangtua yang bahagia. Perasaan saling memiliki sangat mereka tunjukkan.
Ketika sang ibu bercerita bahwa mereka pernah hanya bisa makan berlauk garam, numpang-numpang ketika rumah yang dulu digusur pemerintah hingga akhirnya mereka settle dengan kondisi mereka. Aku merasa mereka sangat “kaya”, bukan secara fisik. Namun kebersamaan mereka.
Rumah ini benar-benar mengesankan untukku karena kasih sayang para penghuninya. Aku benar-benar “iri” dengan mereka, aku menginginkan keutuhan dan kesempurnaan kasih sayang itu terjadi padaku. Aku benar-benar “iri”..!
Kawah Putih, Ciwedey
Aku mengunjunginya bareng-bareng bersama teman-temanku tempo dulu. Memang hanya sekedar obyek wisata. Namun menurutku, sueeerr…beautiful sekali. Aku bahkan ingin kesana lagi, suatu saat nanti. Siapa tahu bisa foto prewedding di sana? Alamaak..indah nian.
Perjalanan menuju daerah itu, dihiasi jeritanku dan teman-teman semobil karena mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak dan mesin tiba-tiba berhenti. Mungkin kaki si sopir sudah tidak kuat lagi menahan rem. Alhasil, mobil yang sudah separo jalan, meluncur turun ke belakang. Kami hanya bisa menjerit dan berteriak ”Allahu Akbar”, “Laailaahaillallah” waktu itu. Aku yang duduk kursi paling belakang, sangat pasrah dengan apa yang terjadi. Mau lari, jelas tidak bisa.
Namun, Allah memang maha dasyat. Mobil itu berhenti meluncur, mesin hidup, akhirnya menanjak lagi dan sampai di atas. Alhamdulillah. Sebuah piknik yang dihiasi sedikit suasana thriller..
Kalimanggis, Kuningan..
Seorang ibu yang kesepian. Dia seorang janda yang anaknya sudah tinggal di perantauan. Melihat ibu itu, aku teringat dengan ibuku sendiri. Apalagi ketika si ibu sakit, namun tak ada duit satu peser pun di dompetnya. Selama ini, dia hanya bergantung dengan uang yang dikirim oleh anaknya, yang pada saat itu belum bisa mengirimnya. Suerr..aku turut sedih banget. Alhamdulillah, ibuku masih beruntung karena punya uang sendiri. Sebuah pembelajaran bagi para anak..” wahai para anak, birul walidain..please..!”
Saung Pak Usman..
Sebuah daerah yang terletak di antara dua gunung salak dan ciremai yaitu Ciwaru, kuningan. Udaranya tidak sesejuk Jalaksana, bahkan terasa panas. Untungnya dekat sawah, jadi angin sawah bisa menyejukkannya.
Sebuah rumah milik Pak Usman, seorang pensiunan tentara. Kesan pertama menginjakkan kaki di rumah ini adalah so nice. Bertemu dengan pemiliknya, pujian pertama akan bertambah menjadi so nice, so beautiful.
Rumah yang nyaman, air melimpah dan bersih, jauh dari kebisingan selain teriakan anak kecil yang sedang bermain bola di tanah lapangan depan rumah.
Ada tempat favoritku di rumah ini yaitu sebuah saung di depan rumah.
Suasana pagi menjadi terasa nikmat dengan kongkow-kongkow bersama di saung depan rumah dengan segelas teh hangat atau sekalian sarapan. Di malam hari pun, kita bisa kongkow-kongkow santai. Nuansa alami yang menyehatkan. Jika ada yang bergitar, wah..suasana tambah mengasyikkan Serasa syuting videoklip deh.. Olala, saung Pak Usman..i’ll remember you!
Mencuci di belakang rumah, menjadi sangat indah dengan melihat pemandangan gunung, langit biru dan hijaunya sawah.
Apalagi yang harus aku tulis tentang saung milik Pak Usman ini? Banyak cerita indah di sini.
Sampai detik ini, Rumah milik Pak Usman dan Bu Encum ini adalah rumah favorit pertama selama si Kuningan. The next special story will write next day..
“Villa” Cibeureum..
Tidak seperti kesan pertama di rumah Pak Usman, yang langsung heart catching pada pandangan pertama. Namun ketika pertama menginjakkan kaki di rumah Hj. Ita ini, komentar pertamaku adalah,” Wah, rumah orang kaya”. Selanjutnya yang ada di pikiranku, tentu suasananya tidak sehangat di “saung Pak Usman”.
Sebuah rumah “modis” dengan design yang sudah direncanakan. Semakin ke dalam, ada hal yang membuatku menjadi nyaman yaitu air dingin pegunungan yang melimpah di kamar mandi.
Di rumah ini, air bukanlah kendala sama sekali. Duduk-duduk di pavilyun belakang dengan melihat ikan di kolam, sangat mengasyikkan. Apalagi perhatian 90 % dari pemilik rumah, membuat kami menjadi semakin betah. Kesan pertama yang biasa saja, berubah 180 derajad menjadi luar biasa mengesankan.
Lagi-lagi, kami bersebelas dalam sebuah tim penelitian. Dan aku pikir, kesan indah di “Villa” Cibeureum ini pun akan dirasakan oleh teman-teman yang lain juga.
Lebakwangi, Kuningan.
Kesan terdalam bukan dari pemilik rumah ini. Bahkan aku tidak kenal dengan pemiliknya, aneh kan? Memang. Tapi siapapun pemiliknya, yang jelas dia sudah sangat baik kepada kami.
Kesan mendalam tercipta, karena rumah ini adalah rumah terakhir kebersamaan kami. Sebuah saksi bisu sebuah perpisahan. Aku seperti tidak ikhlas menerima waktu perpisahan itu tiba. Tapi, Life must go on..!
Saatnya kembali ke dunia nyata kami. Mobil yang membawa kami, seakan menjadi sangat jahat menurutku. Aku menangis. Tapi, perpisahan memang lagi-lagi harus terjadi.
Ah, hanya pisah tempat. No Problemo, Man..!
Kalimanggis, Ciwaru, Cibereum dan Lebakwangi, didedikasikan untuk teman-temanku tim AJ SPKP : Mas Arif, Tendi, Ganjar, Yoga, Bang Budi, Umi, Siti, Isti, Vivi dan Aan.
Kisah di atas, hanyalah sebagian dari banyak tempat yang mengesankan hatiku. Setiap kesan itu terjadi, pasti ada sebuah kisah di dalamnya. Kesan-kesan itu, akan meninggalkan kenangan yang indah.
Tapi..
Di tempat aku mengetik semua kesan indah itu sekarang, aku berada di tempat yang paling berkesan sepanjang masa hidupku yaitu rumahku sendiri.
My Home Sweet Home..!
09 Agustus 2009
Mbah Surip : Tidak Ada Kata "Terlambat" Untuk Sukses
Manusia adalah makhluk pembelajar..
Belajar selalu ada koma, bukan titik. Hidup itu sendiri adalah belajar setiap detiknya dengan berbagai materi kehidupan dengan “seorang” guru terhebat sepanjang masa yaitu pengalaman, hingga akhirnya ada saat ujian dengan sebuah kasus yang memerlukan penyelesaian untuk mendapatkan jawaban. Hasil jawaban itulah yang akhirnya dinilai dengan hasil " sempurna, lebih dari cukup, cukup atau kurang.."
Bicara tentang belajar, akan menuju sebuah ujian dan akhirnya tidak akan lepas dari kata sukses.
Coba perhatikan, ketika ada teman kita mau maju ujian, kata-kata apa yang sering diucapkan teman yang lain untuk memberi semangat adalah..”Sukses ya! Semoga ujianmu berhasil !”, atau “goodluck” atau kata-kata tak sama lain namun tujuannya serupa yaitu mendoakan kesuksesan.
Mbah Surip, sebuah contoh nyata yang sedang menjadi top rating sekarang ini.
Orang-orang menyanyikan lagu “ Tak gendong kemana-mana “, sekedar untuk bercanda atau joke santai. Bahkan banyak orang yang menirukan
Apakah sebuah usia bisa menutup pintu anda untuk menjadi orang yang sukses?
Bisa “ya”, bisa “tidak”.
Namun, lebih baik kita lupakan jawaban “ya”, ambil jawaban ‘tidak”. Yang positif lebih sehat untuk otak kita daripada yang negatif.
Lagi-lagi, Mbah Surip adalah contoh nyata untuk jawaban pertanyaan ini.
Dia adalah seorang artis yang baru ngetop dan dinilai sukses di usia 63 tahun. Bukan usia yang menjual untuk seorang artis, bukan?
Namun begitu, Mbah Surip bukanlah satu-satunya contoh orang sukses di usia senja.
Di dunia penulisan, lihatlah..
- Pramodya Ananta Toer, seorang novelis piawai yang tetap menulis hingga usia 81 tahun. Karya-karya yang dihasilkannya pun bukanlah sekedar karya ecek-ecek.
- Remy Silado, mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award di usia 56 tahun untuk novel Kerusung Merah Kirmizi.
- Ayu Utami, terkenal di usia 30 tahun ketika tahun 1998 dengan novel Saman yang dicetak tiga kali dalam setahun sekaligus memenangkan sayembara Roman dewan kesenian Jakarta 1998.
Kesuksesan tidak selamanya terpaku pada usia, jenjang pendidikan, nilai Indeks Prestasi Kumulatif, maupun jenis kelamin. Bahkan modal “dengkul” pun bisa membawa Aristotle Onassis menjadi raja kapal yunani selama beberapa tahun.
Jadi apa bekal tertepat yang harus disiapkan untuk sebuah perjalanan “kesuksesan”..?
Sebuah ZEST atau semangat yang tak kunjung padam, kecerdasan melihat peluang, dan tentunya sebuah DOA yang tulus.
Tidak pernah ada kata “terlambat” untuk sebuah kata SUKSES.
Employee, self employee and investor/businessman
Mempunyai rekening dengan saldo rupiah yang bisa membuat kata “wow”, Menjadi nasabah prioritas di bank ternama, bisa punya rumah bagus, kendaraan bagus, keluarga bahagia&sejahtera, dan sebagainya yang bagus-bagus..
Wah..ck..ck..ck..!
Begitulah harapan para employee dan self employee..
Kata Rasulullah, sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dalam perniagaan. Jauh mendahului Robert T.Kiyosaki dengan cashflow quadrantnya, Rasulullah telah menunjuk businessman dan investor sebagai dua hal yang harus menjadi cita-cita seorang mukmin. Bukan self employee apalagi employee murni.
Namun..
Siapa tidak bangga ketika ditanya “ kerja dimana?” maka akan tercetuskan nama sebuah perusahaan, institusi atau lembaga yang bonafide. Pasti bangga
Bekerja menjadi employe..
Akan terikat dengan sebuah ikatan jadwal kerja. Harus masuk jam “segini”, pulang jam “segini” atau lembur sampai jam “segini”.
Apalagi di
Berangkat pagi-pagi, jam enam. Karena pilihannya, berangkat jam enam ampai tujuan jam setengah delapan. Atau berangkat jam tujuh, sampai di tujuan jam sepuluh (karena macet).
Pulangnya juga begitu..
Pulang jam empat, sampai rumah jam delapan malam (karena macet) atau pulang jam delapan malam, sampai rumah jam sembilan malam.
Belum lagi masalah kompleks lainnya. Memang, hidup adalah perjuangan.
Begitu juga dengan menjadi seorang self employee..
Menjadi dokter yang berpraktik sendiri, jadi notaris, jadi penulis, Bolehlah dikatakan contoh self employee.
Tentu saja tidak setenang employee yang mendapat gaji setiap bulannya. Self employee, akan mendapat uang, ketika dia melakukan pekerjaannya, berhasil menjual baik berupa jasa ataupun produknya.
Contoh, seorang dokter yang berpraktik sendiri, akan dibayar ketika ada pasien yang berobat kepadanya. Seorang notaris akan mendapat uang, ketika ada orang yang butuh jasanya untuk menguruskan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Seorang penulis akan mendapat penghasilan, ketika tulisannya dimuat dimedia
Kelemahannya tentu saja, dalam hal finansial tidak setenang employee dengan gaji tetapnya per bulan. Namun kelebihannya, dia punya waktu luang atau tidak terikat oleh sistem kerja yang under pressure atau bebas dari ketar-ketir
Employee atau self employee, punya harapan yang sama untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya..seperti kata Rasulullah di paragraf kedua di atas yaitu menjadi seorang businessman dan investor.
Oh iya..
Sebentar lagi, musim PNS-an (kalau sesuai jadwal).
“Jangan berambisi memegang jabatan pemerintahan atau pegawai negeri dan anggaplah dia sebagai pintu rizqi yang paling sempit. Tetapi jangan menolaknya jika ditawarkan kepadamu. Jangan mengundurkan diri, kecuali jika hal tersebut bertentangan dengan tugas-tugas da’wah.”
Relevan
Secara, posisi yang ditawarkan dalam formasi cpns sangat minimalis dengan pelamar yang bejibun jumlahnya. Sebuah perbandingan yang menghasilkan nilai harapan yang sangat kecil. Namun di balik kecilnya harapan itu, tetap ada harapan keberhasilan. Jika hal tersebut adalah keberuntungan dan berjodoh dengan kita.
Semangat..!!
Teror lagi ah..Teror lagi..!! Oh, Indonesiaku..!
Peristiwa peledakan Hotel JW Marriot dan Rtz Carlton sudah berlalu beberapa waktu yang lampau. Namun duka dan kepedihannya, akan diingat sepanjang umur oleh korban dan keluarga korban.
Ahh, kenapa di dunia ini ada saja orang yang berulah “ada-ada saja”.
Kalau ulahnya hanya bikin celaka dirinya sendiri, emang gua pikirin. Tapi kalau sudah mengancam kenyamanan dan keamanan orang lain atau orang banyak, bahkan bawa-bawa ajaran Allah yang salah tangkep.
Wah..waah, jelas sakit parah nih. Perlu antibiotik yang super ampuh.
Jika ada yang mencoba memprovokasi atas nama jihad dengan membawa ayat-ayat Allah, hubungi uztadz atau ulama terdekat. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Baca selalu taawudz dimanapun kita berada. Bisa jadi ada unsur “Tommy Rafael”(ups..sorry Tommy!) atau hiptonis ada dalam masalah ini. Waspada..!!
Sebenarnya..
Allah memang menuliskan perintah berjihad dengan jiwa dan harta di jalan Allah melalui ayat-ayatnya. Silahkan buka QS Al Baqoroh 189 sampai dengan 195.
Namun..
Tidak selalu jihad itu mutlak sama dengan perang, kecuali kondisi negara atau islam dalam keadaan genting sekali. Untuk penjelasan lengkapnya, lagi-lagi silahkan menghubungi uztadz terdekat.
Saya bukan ahlinya. Saya juga tidak pintar, hanya saja..saya sadar kalau saya tidak pintar.
Saya hanya beropini mengungkapkan kegeraman saya pada pelaku peledakan bom itu. Atau mungkin dulu cita-citanya dulu jadi James Bond kali..(lho? hehe)
Tapi teman-temanku..ada pesan juga di sini.
Mau di hotel berintang dengan security berlapis-lapis? Bisa kena bom juga.Mau di keramaian yang banyak teman? Bisa kena flu babi.
Mau di kasur tebal berbantal empuk? Bisa juga sesak nafas karena empuknya bantal..(mungkin meluk bantalnya terlalu erat? Hihi, ada-ada saja juga ya?).
Mau makan enak di resto mahal dan berbintang? Bisa keracunan makanan juga. Bisa-bisa saja
Dan lain-lain ya..!
Allah sedang mengingatkan hamba-hambanya dalam kondisi ketika banyak orang telah bisu dan tuli, seperti kondisi dewasa ini.
Dimana Hedonisme adalah sebuah piala.
Meskipun tidak seluruhnya. Masih banyak orang yang mem-piala-kan agama. Makanya, Allah masih level memberi peringatan.
Meskipun konon Nurdin M Top sebagai otak teroris yang menjadi orang yang paling dicari sudah tewas, namun itu tidak akan menjamin keamanan 100 %. Kalau pun Nurdin sudah tewas, namun bagaimana dengan ilmu yang sudah mempengaruhi orang-orangnya? Wah..wah, pokoknya mah tetap berharap ending cerita yang bagus deh. Dimana penjahat selalu kalah dengan sang pahlawan.
Intinya..
Dimana pun kita berada, kematian sangat dekat dengan kita.
Pernah lihat film “Final destination”?
Sebuah film yang menceritakan bagaimana mengakali kematian. Namun coba perhatikan. Film itu selalu berakhir dengan mengambang atau tidak happy 100%. Ketika pelaku cerita berhasil dengan trik-triknya demi terhindar dari sebuah kematian, itu hanya sementara. Tapi di akhir film, tetap saja kematian menjangkaunya dengan cara yang tidak terbaca atau tidak tertangkap sinyalnya oleh pelaku cerita.
Wallahu a’lam bi showab.
So, what can we do?
Jangan pernah melakukan hal-hal yang negatif dimana pun kita berada. Say No To Negative Activities.
23 Juli 2009
Dunia Dari Balik Kaca
Aku menonton film yang kusukai lebih dari 3 kali, atau membaca buku yang menjadi favoritku lebih dari 3 kali. Sebenarnya apa yang dicari? Bukankah jalan cerita dan endingnya sudah diketahui, atau mungkin sudah sangat hafal. Aku jawab, " Karena aku menikmati prosesnya ceritanya".
Begitu juga dengan kehidupan. Proses itulah yang sebenarnya menjadi esensi dan hakikat kehidupan itu sendiri. Ada saat bahagia, sedih, thriller, komedi, sukses, down...dan lain sebagainya.Godless bilang.."Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah..etc"
Mungkin biasa bagi pembaca, namun menyedihkan bagi pelakonnya. Pengalaman Hidupku..
Kepergian bapak dalam kehidupanku, adalah salah satu contoh nyata yang aku rasakan. Perasaan kehilangan sangat terasa.
Aku sendirian, mengantarkannya ke rumah sakit, aku sendirian, menyaksikan proses sakaratul mautnya di ICU, sampai akhirnya aku hanya bisa mengucapkan "Inna Lillahi Wa Inna Lillahi Roji'un" ketika rohaniawan rumah sakit datang dan dokter menyampaikan berita itu. Jam 23.00 wib..
Ternyata berbeda ketika aku melayat orang. Biasanya aku segera turut mengangis karena melihat wajah sedih keluarga yang ditinggalkan, ikut berduka dan terlarut dalam suasana.
Namun yang ini lain. Aku tidak segera menangis. Hanya merasa bagaikan jatuh dari tebing yang sangat tinggi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, karena aku sendirian di sana.
Bapakku, Orang dekatku yang 1 jam sebelumnya tadi masih sinetron bersama, sekarang sudah kaku di depanku. Kok bisa? Sesuatu yang dulu aku anggap tidak akan terjadi sampai 10 tahun ke depan, ternyata hadir saat itu dalam hitungan jam..
Ah, sudahlah. Itu hanya cuplikan babak cerita sedihku. Memang tidak selengkap jalan cerita kejadiannya waktu itu. Hanya secuplik saja, sudah cukup membuat aku mengingat kembali moment itu..
Hidupku pun terasa berubah. Merasa ada yang kurang di setiap waktunya. Semua hal terasa berbalik derajad. bahkan kejadiian- kejadian tidak bahagia lain pun terjadi. tapi yang ini masalah hati dan memang tidak perlu diceritakan kembali. Cerita basi dan sudah usang, tidak sehat dimakan.
Aku yang tidak biasa mengeluh, semakin tidak bisa mengatakannya. Ah, itu kan hanya proses. Bukankah tidak hanya aku yang kehilangan orang yang kita sayangi? Seluruh manusia di dunia pasti akan mengalaminya. Hanya masalah waktu yang menentukan..
Sebuah kisah yang meninggalkan pesona indah dan cukup membekas di hatiku. Sebuah motivasi tumbuh dari sana. Alkisah..
Menjadi salah satu anggota tim penelitian di daerah Kuningan-Jawa Barat. tidak aka terceritakan detilnya di sini, tunggu session berikutnya. Ada teman yang mengeluh dengan minimalisnya kondisi, kok bisa ya? Mungkin karena mereka tidak biasa hidup susah.
Padahal, setiap proses yang terjadi, mau susah atau senang itulah seninya.
Susah senang tempo dulu pun, akhirnya hanya menjadi kenangan indah ketika kita menceritakannya hari ini. Tapi yang jelas, aku bisa bahagia berada di sana.
Ketika aku menghirup sejuknya angin Jalaksana, sampai panasnya Losari.
Begitu juga ketika aku tinggal nyaman di sebuah rumah seperti Vila di Ciebeureum sampai serasa memiliki rumah pribadi sendiri di Lebakwangi.
Bagaimanapun kondisinya, aku merasa memiliki keluarga yang utuh saat itu.
Teman-temanku pembaca..
Cerita ini belum berakhir. Akan ada release yang lebih komplit. Tapi kapan menerbitkannya? Wait aja yah..hehehe.
Ada pesan dari Arvan (the 7 Laws Of Happiness) nih..bahwa:
Bagi orang sabar..
Tidak ada kata tak bisa..
Tak ada kata yang tidak mungkin..
Segala sesuatu selalu mungkin untuk dilakukan..
Keberhasilan hanyalah masalah waktu..
Pesan ini aku tulis spesial untuk orang-orang yang sabar menanti kesuksesan tanpa berhenti berusaha semampu dia bisa, seperti akyuu..!!
Bersambung..!
semua temanku yang baik kepadaku selama ini
12 Juli 2009
Bersahabat Dengan Diri Sendiri
Meskipun terlihat sepele, namun bersahabat dengan diri sendiri bukanlah sesimpel teorinya. Berikut adalah kasus yang tergambarkan dalam sketsa cerita.
Sketsa pertama :
Saya pernah bekerja menjadi sebuah marketing di sebuah perusahaan insurance dengan brand terkenal, tapi harus “batal” dalam waktu yang tidak lama. Why?
Sebagai seorang marketing, tugas saya tentunya adalah bisa menjual produk perusahaan kepada calon pembeli.
Sebenarnya, saya tertarik. Selain income yang tinggi jika bisa “deal”, seorang marketer tidak melulu di belakang meja dan mempunyai kesempatan bertemu dengan orang banyak dari bidang dan karakter yang berbeda. Itu pandangan saya pada awalnya.
Namun ternyata, ketika menjalani..semua terasa berbeda.
Merasa boring, jengkel ketika penawaran ditolak, bahkan merambat ke penyakit jasmani, saya sering merasa pusing ketika mau prospect dengan calon klien.
Kenapa? Saya bahkan belum tahu jawabannya.
Tapi yang jelas, saya tidak begitu menyukai “pertanyaan” yang bertubi-tubi ataupun bicara berulang-ulang jika calon klien belum paham dan ngobrol yang panjang. Padahal, seorang marketer harus bisa menciptakan obrolan yang menyenangkan. Intinya mah, pinter ngomong gitu..
Meskipun begitu, pandangan orang lain dengan yang kita rasakan bisa jadi berbeda. Manager saya memuji saya sebagai marketing berprestasi, karena bisa “deal” produk bernominal besar.
Tapi, mau tahu apa yang saya rasakan?
Saya bosan minta ampyun. Benar-benar tidak enjoy bahkan merasa “tersiksa”. Saya tidak menyukai obrolan, senyum dan muka ramah hanya sekedar untuk bisnis atau tendensi tertentu. Sangat berbeda ketika saya ngobrol dengan teman, tanpa tendensi apa-apa. Semua akan mengalir dengan begitu saja, tanpa tekanan.
Tapi tentunya, pengalaman ini tidak berlaku untuk orang lain.
Karena yang terjadi pada rekan saya justru sebaliknya. Dia sangat menikmati pekerjaan itu.
Ketika saya tanya, “dikau boring dengan muka ramah pura-pura bahkan ketika ditolak dengan judes?”
Dia menjawab, “sama sekali tidak. Justru itulah asyiknya.”
Wah, tentunya saya harus belajar dari rekan saya ini ya..
Sketsa kedua :
Saya terlibat sebuah project penelitian dari sebuah instansi non profit. Posisi saya adalah data editor, dimana tuntutan kerja membuat intensitas berkomunikasi dengan kertas dan komputer lebih banyak daripada dengan manusia.
Ada seorang teman yang kebetulan posisinya sebagai pewawancara/pencari data bertanya, “bosen gak sih? Jauh-jauh lintas propinsi tapi hanya tahu di basecamp saja?”
Mungkin terlihat kasihan kali ya. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya. Saya sangat menikmati pekerjaan ini. Bahkan bertemu dengan benda-benda mati tersebut ternyata tidak beda asyiknya ketika ngobrol dengan teman. Saya sangat enjoy ketika melakukannya.
Mungkin, saya lebih menyukai bekerja di belakang layar dibandingkan menjadi aktrisnya kali ya..
Dua sketsa itu hanyalah sebuah contoh.
Bahwa ukuran bersahabat dengan diri sendiri bukanlah suatu ilmu pasti. Masing-masing manusia mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda. Ketika dia menjadi penulis, bukan berari dia tidak bisa menjadi artis. Tapi lebih kepada, sang penulis tidak enjoy ketika menjadi artis. Begitu juga sebaliknya.
Hobby..
Suatu kegiatan yang menjadi kegemaran kita. Dengan melakukan kegiatan itu, kita akan memperoleh kepuasan tertentu, yang efeknya akan membuat perasaan menjadi gembira. Hobby adalah bagian dari kesukaan kita.
Hobby bisa membuat seseorang maniak sekali, bisa sangat beragam dan lebih dari satu. Namun antara hobby dan kesukaan akan berkaitan.
Sketsa :
Dulu, saya pernah merasa aneh ketika seorang teman saya berkata hobbynya adalah makan bakso. Saya pikir, asal tulis saja ini anak. Bakso? Ah biasa saja. Siapa yang tidak doyan. Sebagian besar orang kenal dan doyan bakso.
Namun, setelah saya amati, ternyata dia berbeda. Setiap ada kesempatan mengunjungi kota-kota lain, teman saya selalu menyempatkan mencari warung bakso. Dia tidak sekedar makan untuk mengisi perut yang lapar. Namun, dia membedakan rasa bakso di se tiap daerah.
Ada fungsinya juga, hobby ini. Terjadi ketika di sebuah daerah jawabarat, dia makan di sebuah warung bakso yang tertulis “bakso solo” sebagai brand-nya, dia komplain ke abang tukang baksonya. Karena rasa bakso solo tidak seperti yang dia rasakan. Yah, ternyata yang masak bukan orang solo asli. Sebaliknya ketika dia makan bakso di kota solo sendiri , dia komplain kenapa rasa baksonya seperti masakan sunda? Yah, ternyata yang masak orang sunda.
Waduh..segitunya ya. Tidak boleh protes dong kita, namanya juga hobby..hihi.
Sama, ketika saya menyukai film korea ketika sedang suntuk. Bukan karena ngefans berat artisnya. Tapi, saya menyukai cara makan orang korea di film-film tersebut. Ketika sedih, sakit hati,putus asa atau patah hati, mereka akan makan banyak dan tergesa-gesa. Memang tidak dianjurkan oleh etika kesehatan dan kesopanan sih. Tapi entah kenapa saya menjadi bersemangat lagi setelah melihatnya.
Aneh? Lagi-lagi tidak boleh protes..karena ini berhubungan dengan kesukaan, hehe.
Bagaimanapun hobby dan mengetahui hal-hal yang kita sukai merupakan cara lain bersahabat dengan diri sendiri. Bayangkan..! (jangan lama-lama bayainginnya ya..hehe!)
Ketika suasana hati sedang kacau, tidak nyaman, BeTe, sumpek, dan sebagainya, kita selalu merasa “ its mybadday” atau “ aku sedang tidak baik-baik saja” atau “ you disturb me” atau kalimat negatif lainnya.
Kita butuh curhat? Silahkan, karena tujuannya membuat perasaan kita kembali baik-baik saja. Tapi kadang kita tidak punya masalah untuk dicurhatkan , tetapi kenapa perasaan kita negatif saja terasanya.
Menurut saya, hanya sekedar butuh pelepasan. Bisa melalui kegiatan berupa hobby, yang membuat perasaan menjadi free kembali.
Untuk pembaca posting ini..
Inventarisasikan hobby dan kesukaan kalian. Bisa jadi kita bisa semakin mengidentifikasi potensi diri kita. Pasti bermanfaat untuk Emotional Quotion kita. Atau bisa jadi juga bermanfaat untuk “Comersial” Quotion kita..hehe.
Kesuksesan adalah meraih apa yang sungguh-sungguh kita inginkan.
06 Juli 2009
Me and Soccer
Seperti dunia “anak baru gede” yang histeris ketika band favoritnya sedang show di panggung deh pokoknya. Sangat sederhana
Level menyukai sepakbola dari mengidolakan salah satu personalnya, belum membuat saya bisa menyukai ketika melihat pertandingan sepakbola. Menurut saya waktu itu, sepakbola itu membosankan. Bayangkan 2 x 45 menit, harus pantengin mata ke layar tv demi melihat orang rebutan bola.
Huah..apa asyiknya. Kenapa tidak dikasih satu-satu saja agar bisa nendang tanpa rebutan. Haha..joke klasik!
Tapi seiring perkembangannya, ternyata opini pribadi bahwa “sepakbola itu membosankan” patah dengan sendirinya.
Terjadi ketika mental saya sedang dam kondisi futur berat. Entah di tahun berapa terjadinya. Namun yang terjadi pada saya saat itu adalah, semua hal menjadi terasa menjenuhkan dalam kehidupan saya. Semua aktivitas terasa membosankan.
Saya insomnia karena kegelisahan tanpa sebab jelas. Iseng-iseng saya tonton siaran live sepakbola di tv, dengan mendukung salah satu tim yang bermain. Fokus terhadap pertandingan dari A-Z. Waww, ternyata membuat adrenalin cukup meninggi. Jengkel ketika pihak lawan berhasil menguasai permainan, semangat dan senang ketika tim yang saya dukung berada diatas angin. 2x45 menit, saya habiskan di depan tv.
Saya berteriak lepas ketika gol diciptakan oleh salah satu pemain tim yang saya dukung. Apalagi ketika tim saya menang. Rasa deg-degan 90 menit tadi terhapus sudah. Sangat lega.
Ternyata oh ternyata, sepakbola bisa berfungsi sebagai sarana pelepasan stress juga. Berlebihan? Ah, tidak..karena ini nyata terjadi.
Moment piala dunia 2004..
Awalnya hanya sekedar ikut arus euforia sepakbola 4 tahunan tersebut. Saya mengikuti setiap kualifikasi dari awal dengan menjagokan jerman sebagai juara. Tetap Jerman Cuma bedanya, saya menjagokan Jerman secara utuh, tidak sekedar melihat pesona Klinsman. Mau bukti? Saya suka dengan oliver khan (Huu.. sama aja dong!)
Eits, jelas tidak dong. Coba dibandingkan dengan isi paragraf pertama artikel ini tentang alasannya saya menyukai Klinsman yaitu phisically. Sedangkan Oliver Khan, alasannya adalah dia unik. Meski body seperti robot, tapi tangkapan jarang meleset. Kalau meleset mah, kecelakaan aja..hehe.
Satu lagi, dalam posisi kiper dia bisa sebagai kapten tim.
Piala dunia 2006..
Tetap dukung Jerman. Bahkan karena maniaknya, saya sampai jengkel dengan Italia karena menggagalkan kemenangan jerman untuk menjadi juara. Pakai acara sedih sepanjang hari juga lho..olala.
Tapi untunglah, Jerman masuk ke 3 besar, lumayanlah.
Tidak selalu Jerman..
Meskipun..
Akhirnya, Jerman belum berhasil jadi juara atau Spanyol yang berjasil jadi juara euro cup.
Namun satu point untuk saya, saya menjadii paham tentang sepak bola. Misalnya, kapan terjadi corner, pinalty, off side, bahkan ketika pemain melakukan diving, ekspresi emosi pemain, selebrasi ketika gol terjadi dan sebagainya. Meskipun sepele bagi orang-orang yang sudah tahu, tapi merupakan peningkatan ilmu plus hiburan tersendiri untuk saya.
You’ll Never Walk Alone..
Tidak sekedar judul lagu kebangsaan tim yang sekarang menjadi tim favorit saya,
Karena tidak mungkin sepak bola itu bermain sendiri.
You’ll Never Walk Alone..
Dalam sepekbola, tidak ada yang tidak mungkin. Seperti gelindingan nasib. Sebuah ketidakpastian tergambarkan di
Bukankah seperti sebuah nasib? Bisa jadi perencanaan hidup kita matang untuk mendapatkan hasil yang sempurna, Namun Allah menciptakan skenario berbeda sehingga hasil yang terlihat oleh mata manusia adalah kegagalan.
Bola itu bulat..
Sebuah tendangan akan menentukan arah dia menggelinding. Jika arah tendangan itu salah, maka arah bola juga bisa salah dan menjauh dari gawang lawan. Begitu juga dengan kehidupan. Ketika arah yang kita tuju tidak fokus, maka akan terjadi bias yang tak jelas dalam hidup..
Terlalu rumit untuk menganalogikan sepakbola dengan jalan kehidupan? Ah, tidak juga.
Yang jelas, ada dua pasal yang harus dipenuhi ketika melihat sepakbola..
Pasal pertama adalah, jangan memandang pertandingan sepakbola dari sudut pandang filsafat. Jika itu terjadi, anda bisa dianggap kurang 1 ons otaknya lho. Kok bisa? Bayangin aja, ketika yang lain sedang heboh dengan pertandingan atau memberi support pada tim favorit, eh kita malah diam merenung untuk memikirkan, “kenapa bola itu bulat?”. Kalau kotak mah, berarti bola tidak lolos QC-nya pabrik kali yaa..hehe.
Pasal kedua, yaitu siapkan mata, stamina, camilan dan minuman. Dan pilih salah satu tim yang didukung. Kalau bingung mah..jagoin wasit aja..hehehe!!
Bagaimanapun kisah tentang sepakbola. Sekarang yang terjadi di hati saya mah tetep Bravo Liverpool wae..
You’ll Never Walk Alone..!!!